Ini tentang "the secret" ....
"Kusadari bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan, akan
tetapi setiap orang enggan memikirkan tetang hal itu. Yang tadinya sebenernya
memliki kelebihan tapi dia tidak bisa memanfaatkannya, karena apa, Karena dia
tidak mau berfikir. Saya yakin setiap insan jika mau berfikir tentang apa yang
ingin di kehendaki insyaallah dengan izin yang mahakuasa semua bisa tercapai .
Amin.. . Jadi bagi siapapun itu tidak memandang entah itu siapa, percaya diri
jika kita bisa seperti apa yang kita pikirkan "
Ketika orang mempunyai keinginan , pikirkan , rasakan, dan lakukan. Sudah
itu saja. ya mungkin dalam realitanya susah tetapi, saya punya keyakinan memang
itu jalannya. Mungkin ini kelihatannya konyol tetapi ini sudah terbukti dari
jaman terdahulu, dan oleh para guru besar yang sudah success. Dan kita juga
jangan mau kalah, jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk memiliki
harapan Besar. Semua bisa teratasi selama kita masih berusaha. Dan jangan lupa
, selalu mengembangkan pola pikir anda semua. dan selalu belajar dan
belajar.
Suatu ketika, saya melihat pegawai saya (waktu itu saya ini masih menjadi
Kepala sekolah di sebuah SMK), dia seorang anak muda yang menjadi pesuruh
(tenaga pembantu di sekolah) sedang melakukan pekerjaan dengan
giat, membersihkan toilet sekolah.
Dia melakukan pekerjaannya sambil menyanyi dan kelihatannya semangat. Saya
saat melihatnya riang jadi ikut senang dan setelah saya selesai melampiaskan
hajat saya yang tertahan cukup lama di depan laptop di dalam ruang kerja saya,
akhirnya saya berdialog juga sama si periang ini. Intinya saya menanyakan
berapa sering ia membersihkan tempat ini. Yang saya suka, dia melayani
pertanyaan saya dengan santun dan riang. Dia bilang bahwa jadwal pasti
membersihkan toilet bagian ini adalah setiap hari, namun kalau kelihatan kotor
sekali, maka bisa sehari dua kali.
"Maklum pak Sigit, anak-anak sekolah, pun tidak satu atau dua yang
menggunakan tempat ini, pak Sigit." Begitu katanya dengan senyum yang saya
hafal betul. Luar biasanya, dia menyebut nama saya. Saya merasa bangga
dengan dirinya dan saya merasa gembira dia mampu menyentuh perasaaaan saya yang
terdalam dengan menyebut nama saya. Sedang dia hanyalah seorang
pesuruh.
Yang bikin saya salut adalah tidak adanya rasa penyesalan atau menggerutu
dengan pekerjaan yang mungkin dianggap kotor oleh banyak orang ini. Pas saya
kembali ke ruang kerja saya, saya bincangkan kejadian yang saya lihat ini
dengan rekan-rekan kantor, kemudian saya mendengar cerita yang lain, cerita ini
dari seorang rekan guru, katanya, "Ironis, ada seorang eksekutif muda yang
kehidupan finansialnya “jauh lebih baik” dari pesuruh di sekolah ini. Gajinya
saja 20 kali lipat darinya, namun tiap hari terus mengeluh; pekerjaan yang
berat, sering lembur sampek abis Magrib, gak ada promosi, tidak ada kenaikan
gaji yang signifikan, boss yang tidak bersahabat dan serentean keluhan lainnya
… pokoknya semua hal yang ada di kantor gak ada yang sempurna!"
Hemm....
Sang eksekutif muda selalu melihat pekerjaan sebagai kewajiban yang
memberatkan dan tidak IKHLAS. Ternyata, beda antara keduanya sangat
tipis: Sang pesuruh menganggap pekerjaannya sebagai amanah yang ia terima
secara ikhlas .
Sekarang secara pribadi saya bertanya kepada Anda...
Dalam melakukan pekerjaan, Anda memiliki kecenderungan menjadi siapa,
seorang pesuruh pembersih toilet atau seorang exsekutif muda?
Anda yang tahu jawabannya, dan jawaban itu untuk Anda...!
Anda seorang trader, Anda melakukan pekerjaan... apakah Anda memiliki
keikhlasan atau malah memiliki keserakahan?
Kemudian, saya memanggil WAKA Kesiswaan dan saya minta tolong untuk
memanggilkan siswa yang terpintar dan terbodoh di sekolah.
Hemmm...
Ketika mereka berdua datang saya suruh masuk ruangan saya dan mereka duduk
manis di hadapan saya.
"Kamu, saya mendengar dari rekan guru bahwa kamu semester ini nilainya
semakin bagus. Apa rahasianya?" tanya saya kepada siswa yang pintar ini.
"Saya setiap hari meningkatkan belajar, setelah pulang sekolah dan
istirahat sebentar, saya mempelajari kembali yang hari itu diajarkan, Pak.
Kalau malam, saya belajar untuk pelajaran hari esoknya." jawabnya
lugas.
"Kamu, saya mendengar dari rekan guru, nilaimu jeblok di semester ini,
mengapa bisa terjadi?" tanya saya kepada siswa satunya.
"Saya tidak serius belajarnya, Pak. Rasanya malas kalau mau
belajar."
"Kedua?" tanya saya lagi.
"Lingkungan saya mempengaruhi Pak."
"Maksudnya?" tanya saya tak mengerti.
"Saya sering ikut teman-teman main, soalnya ketika harus belajar mereka
datang dan ngajak main, Pak..."
"Kalau mereka gak datang menghampiri kamu?" tanya saya padanya.
"Ya, saya yang keluar pak, ngajak mereka main..."
"Kalau ada tes ulangan pelajaran bagaimana?"
"Kadang nyontek, Pak!"
"Kalau gak ada kesempatan menyontek?"
"Ya, dikerjakan sebisanya, Pak."
"Apakah sebisanya itu menjadikan jawaban benar?"
"Sering salah, Pak. Ya, daripada gak diisi, Pak."
"Lha kamu pingin jadi apa nanti kalau besar?"
"Pingin jadi guru, Pak!"
Haadeeew...!!! Rusak! Rusak! Rusak!
Hemm..."Ya sudah! masuk kembali ke kelas!"
Sekarang Anda tahu, kalau diposisikan Anda sebagai kedua siswa itu, Anda
menjadi trader seperti keadaan siswa yang mana? Seorang trader yang pertama, adalah trader yang cerdas. Trader yang senantiasa
mengakui kelemahan diri masih ada kekurangan sehingga mau belajar dan
belajar. Metode belajarnya pun luar biasa... siang mereview, malam menyiapkan
untuk hari esoknya.
Seorang trader yang kedua, adalah trader yang tidak jelas kemauannya. Kalau
kemauannya saja tidak jelas, semua menjadi serba tidak jelas. Tidak jelas
cita-citanya, tidak jelas yang dilakukannya, dan tidak jelas hasilnya.
Trader yang kedua ini malas belajar, tidak serius terhadap pekerjaannya,
maunya profit, menunggu sinyal orang lain. Kalau sinyal open posisi tidak ada,
ya asal transaksi. Tapi inginnya sukses; bisa beli mobil dan rumah mewah dari
trading... Beeeuuuuh...!
Pantas untuk Anda renungkan!













Salah satu tips terbaik untuk trading adalah memulai dengan jumlah dana kecil. Setelah profit konsisten baru tambah. Jumlah dana yang besar tidak menjamin trading lebih mudah. Sama saja. Jika Anda tidak bisa trading dengan baik, pakai uang sejuta, semilyar, setriliun tetap saja akan habis
ReplyDelete