INSPIRASI TRADER INDONESIA

VPS Hosting
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

CERPEN: OIL DEWA

Ketika kuoleskan cairan ini ke sumber gairahku, ada perasaan was-was yang memenuhi ruang batinku. Selama ini aku tidak pernah menggunakan obat kuat untuk meraih kepuasanku. Setelah menjadi trader forex -entah karena sering melototi  floating minus- gairah terhadap istriku memudar, keterpaksaan menggunakan obat kuat adalah boleh, begitu pikirku. Seakan aku menyesal, lalu entah bagaimana akhirnya kuoleskan juga Oil Dewa ini.

Tiba-tiba, "Jangan!" suara istriku berusaha menahanku, tetapi jelas sia-sia karena sudah kulakukan. Namun dia terdiam...

"Mengapa sayang..?" tanyaku lembut.
"Nanti ketagihan, makanya sudah hentikan tradingmu Mas...! Daripada mencari duit, tapi malah jadi mbuang duit, punyamu loyo, lagi!" kata istriku cemas.
"Jangan cemas begitu ! Ini karya Tuhan, bukan buatan manusia..." jawabku sekenanya.
"Ah, dasar laki-laki...! ucapnya sambil membentangkan selimut dan melurupkan pada tubuhku dan tubuhnya.

Begitulah pertama kali aku menggunakan Oil Dewa lima tahun lalu. Bermula dari seorang sales obat-obatan yang mendatangi ke rumahku dan menawarkan obat kuat berupa cairan, tertulis dalam kemasannya "Oil Dewa". Aku membelinya dan mencobanya. Hasilnya memang memuaskan, dan istriku pun keranjingan. Sehingga aku tidak bisa meninggalkanya.

Semenjak itu aku membutuhkan Oil Dewa, entah mengapa... Ketika ada sales obat-obatan lewat depan rumah aku pasti mengundangnya dan membeli Oil Dewa. Istriku bahagia sekali menyaksikan kegairahan yang lain. Maka kami pun berkhayal "Oil Dewa adalah kiriman bintang-bintang untuk perekat tali cinta kasih".

Akan tetapi beberapa hari lalu ketika cairan Oil Dewa kebetulan habis dan istriku merengek-rengek 'minta', aku benar-benar kelabakan. Aku seperti kehilangan kekuatan, begitu lemah. Seakan bunga yang layu batangnya kering dan daun-daun kegairahan rontok sehelai demi sehelai. Mahkota bunganya yang merah itu pun tak berbeda lagi nasibnya. Akhirnya dengan kesal aku obrak-abrik botol Oil Dewa yang masih tersimpan di almari. Siapa tahu masih ada yang tersisa, tetapi ternyata tidak ada setetes pun.  Berhari-hari kekesalanku belum hilang...

Beberapa hari kemudian atas usul istriku, aku punya rencana berangkat ke dokter. tetapi begitu aku punya rencana ke dokter, penjual Oil dewa lewat lagi... aku berubah pikiran. Mula-mula aku berusaha cuek, tapi godaan untuk lebih menikmati kehidupan ini mengubah rencanaku. Kubeli lima botol sekaligus agar awet... hahahaha.

Aku puas dan berharap tidak akan menimbulkan masalah lagi. "Jangan sampai lupa minum telor madu sebelumnya, Mas..." pesan  si bakul obat ini. Kuucapkan terima kasih dan aku pun menemui istriku, ada harapan baru dan juga hayalan baru tentang ranjang yang tidak dingin.

Setelah dua minggu berlalu mulailah kelihatan kelemahan Oil Dewa itu. Dimulai dari endapan-endapan dalam botol, lalu berubah warnanya dan juga baunya aneh. Kutatap botol-botol itu yang menunjukkan gejala yang sama, lalu kulempar semuanya kesegala penjuru sampai tak tersisa kejengkelanku. Seusai itu aku terduduk kelelahan diatas ranjang, sementara istriku diam mematung.

Sejak itu istriku sering mencak-mencak... maksud hati ingin membahagiakan istri dengan Oil Dewa itu ternyata malah membuat pusing orang yang paling kusayang. Oil Dewa telah menimbulkan masalah baru bagi kami. Akhirnya setelah meminta persetujuan istriku aku mencoba membeli pengganti Oil Dewa, tetapi ternyata sia-sia. Lalu aku bersabar... dan istriku pun ikhlas...!

Entah mengapa begitu si Seksi  bakul obat lewat lagi, aku mulai tergoda. Ingin tapi takut... Aku khawatir akan menambah masalah lagi.

Kepada teman-teman trader aku selalu bertanya, apa rahasia agar laki-laki bisa bertahan lama di ranjang. Ada yang mengatakan posisinya agar diatur, juga ada yang berseloroh setiap malam  jangan tinggalkan belaian istri. Kurang ajar memang...tetapi aku sadar, mereka pasti tak kalah gusarnya mendengar pertanyaanku yang sedikit naif itu. Namun aku harus bagaimana? Obat kuat sudah... Mengatur posisi, juga sudah... Mungkin dibelai-belai setiap malam yang belum aku lakukan. Akhirnya kukatakan kepada istriku, "Beli Oil Dewa lagi ya? Jika beranti warna dan bau, kita ganti yang baru ..."

Dia terbatuk-batuk -entah sejak kapan-, mengatakan, "Sebaiknya jangan!"


Pada suatu sore, aku sandarkan tubuhku di sofa dan memandang istriku sedang duduk-duduk mainan HP. Mungkin lagi curhat sama saudaranya, entahlah... tetapi aku kasihan melihat dia. Kudengar istriku batuk lagi, lebih keras dan lebih sering. Terjadi sampai malam hari... istriku  sepertinya sakit.

Kugosok dada dan punggungnya dengan sedikit minyak putih agar sedikit hangat, tetapi kambuh lagi sampai menjelang pagi. Aku mengalah gak buka laptop kesayangan, berhenti trading malam itu, menemani istri yang lagi sakit. Tanpa pikir dua kali, paginya kubawa ke dokter untuk mengobati sakit istriku, aku sayang banget kepadanya... Dan aku menemaninya masuk menghadap dokter.

Dan... Oh my God! Dihadapan dokter, istriku tidak mengatakan keluhan batuknya. Justru dia sampaikan kalau aku suaminya, sedang memiliki masalah dengan kejantanannya... Tolong Dokter...!

Aku terperanjat..! Mataku melotot..! Hampir tidak dapat kupercaya...dan seketika terbayang botol-botol Oil Dewa berserakan di meja dokter, di lantai, di tempat sampah.. dimana-mana...!

Whuahahahahahahaaaa.......!
Share:

SURAT IMAJINER


Dalam keheningan malam ketika membentuk tirai kosong, ketika orang masih terlelap  di tempat tidur pada mimpi yang terusik, tidak tahu mengapa. Tiba-tiba aku ingat untuk menulis  buat dirimu. Bahkan saya tahu betul ini sepuluh tahun terakhir sejak kamu meninggalkan kuliah di solo, kota kita dan tidak berkomunikasi melalui surat apalagi bertatap muka. Hemm... dulu pun gak ada HP. Tidakkah kamu Anda ingin bertemu aku, Sigit?

Sigit, malam ini saya ditemani oleh seseorang yang tidak pernah lelah mengetuk pintu hatiku. Dan jika aku berhati-hati untuk membuka pintu baginya, kesedihan kembali ke jantung ketika mengingat seorang pria yang bernama Sigit. Sudah lama dia tidak menyapaku, "Anniesa, maukah  kamu kuceritakan sebuah cerita tentang kebesaran cinta?"


Betapa aku ingin mendengar sekali lagi, sapaan seperti itu dan cerita-ceritamu, Sigit. Aku masih ingat betul, apa yang kamu katakan untuk memulai kisah-kisah cinta yang selalu bernuansa cinta. Kau selalu mengutip kalimat Kahlil Ghibran, penyair Libanon itu. "Ketika cinta memanggilmu, ikutilah dia walaupun jalannya berliku. Dan ketika sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di antara sayap dan menyakitimu.. Dan jika ia bicara dengan kamu, percayalah meskipun kata-katanya terputus mimpi, seperti angin utara mengobrak-abrik berkebun. "

Share:

MALAM INI TIDAK ADA CINTA

“Malam ini tidak ada cinta.” Kata-kata ini sering muncul dalam benaknya. Datang bagai daun-daun kering yang terputus dari rantingnya. Ia merasa gelisah seolah-olah membaca kalimat dari primbon tua yang bernuansa mantra.

Mungkin ia telah membaca kalimat itu dalam sebuah novel percintaan yang malang. Dan seperti umumnya seseorang dengan hati yang murung, ia mudah tergugah kata-kata yang indah. Malam itu seolah ia hanya memiliki kalimat itu, seperti pasrah memeluk takdir.

Seorang laki-laki akan melakukan sebuah tradisi, namanya Gowokan. Konon seorang laki-laki yang akan duduk di pelaminan harus siap fisik, mental dan ketrampilan teknis. Untuk alasan yang terakhir itu seorang jejaka harus dilatih oleh perempuan yang sudah mahir.

Pada sebuah kamar di suatu malam.…
“Gila!” kecamnya dalam kesendirian. Sementara Bapak Ibu dan Saudar-saudaranya mengungsi ke rumah kerabatnya di kampung tetangga seolah di rumahnya ada musibah. Ya, disana ada musibah.

“Malam ini tidak ada cinta. Malam ini tidak ada cinta…,” begitu berulang-ulang layaknya seorang yang sedang bezikir. Sementara di langit-langit ruangan itu baling-baling kipas angin berputar datar mengantarkan segumpal kegundahan dan kepedihan yang terbentuk di dalam hatinya.

Tanpa disadari, sesosok perempuan muda yang bertubuh sintal tiba-tiba berada di hadapannya. Keduanya tegak berhadapan seperti dua orang yang mau mengatakan sesuatu yang lama sudah di simpan, tetapi sebenarnya tidak!

“Aku akan melatihmu malam ini. Melatih memadu kasih asmara dari pancaran aura yang tertahan,” kata perempuan itu sambil tangannya menyentuh tangan sang laki-laki. Tetapi laki-laki itu menolak.

“Bagaimana aku harus melekatkan tubuhku dengan tubuhmu, bila aku sangat mencintai calon isteriku,” kata laki-laki itu mencoba menahan diri. “Pergilah!” lanjutnya.
“Tidak! Aku datang utusan budaya. Tugasku belum aku laksanakan, apa tidak menjadi kutukan yang tak terelakkan?” jawab perempuan itu lagi.
Laki-laki itu diam…
Perempuan itu juga diam…
Semua terdiam…
Anda sekalian juga diam..!

Beberapa saat terasa sunyi di tempat itu, padahal begitu ramai pengunjung di panggung budaya itu. Ya, seseorang sedang membacakan cerpen dengan judul “Malam Ini Tidak Ada Cinta”.Tetapi tiba-tiba…

“Bagaimana kelanjutan ceritanya, Mas Sigit? Kok berhenti!” kata perempuan yang duduk agak depan diantara orang-orang yang menyaksikan pertunjukan itu.

“Siapa namamu, gadis cantik?” tanya si cerpenis gendeng itu sambil maju dan membungkuk menatap tajam si penanya..

“Fitri…! Lengkapnya Annisa Fitriasri…” katanya setengah berteriak.

“Terima kasih Fitri… Terima kasih kepada semua yang hadir pada malam ini. Untuk Fitriasri, lanjutkanlah kisah ini. Kepada semuanya, kalianlah yang melanjutkan!” Sigit keluar panggung dengan enjoy tanpa merasa bersalah sekalipun. Kemungkinan juga dia tidak diberi honor dengan pertunjukan seperti itu. Tetapi biarlah…
Tidak dapat dihindari kekecewaan pengunjung, “huuuuu….!” Tetapi aku tahu, itu tidak membuat kapok, apalagi putus asa untuk tidak menonton setiap pertunjukannya. Penonton sudah hafal betul terhadap karakter ‘cerpenis gendeng’ ini. Bahwa cerpenis yang satu ini bisa tiba-tiba mengecewakan sekaligus memiliki power pengaruh penontonnya dalam penantian. Great!

Di belakang panggung, usai pertunjukan Fitri mengejar Sigit saat diketahuinya ia sedang berjalan menuju mobilnya.”Mas Sigit..!“ Fitri memanggil.

“Ya Nona… Ada apa?”

“Saya sangat menggemari cerpen-cepen Mas Sigit.”

“Cerpen yang mana?” tanyanya sambil mengernyitkan alisnya.

“Itu lho, ada Kota Langit, Surat Untuk Edo, saya juga suka cerpen Oil Dewa yang lucu itu, Mas Sigit.”

“Oo…begitu, baiklah . Persembahan ‘Malam Ini Tidak Ada Cinta’ biar saya khususkan untuk kamu saja. Kamu lihat sendiri, semua penonton menyoraki aku dan hampir-hampir lemparan botol minuman kaleng sampai kena wajahku, kan?”

Ya, sejak itu mereka berdua akrab. Berdua kemana-mana. Saat di dalam kampus, di mall atau sedang belanja sekalipun mereka berdua seperti sejoli yang sedang kasmaran. Sigit agaknya mencintainya dan Fitri pun begitu. Tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaan mereka dan perbuatan mereka. Aku hanya tahu satu hal, bahwa besok adalah hari terakhir bagi mereka untuk bersama-sama. Sigit akan pulang kampung karena ada panggilan kerja dan Fitri belum selesaikan kuliahnya.
Perpisahan itu mereka habiskan di sebuah pegunungan kecil nan indah di Ungaran. Sebuah kawasan yang tidak begitu panas pun tidak begitu dingin, hawa yang penuh kesejukan. Mereka mencari tempat kosong di salah satu bangunan berbentuk payung dengan meja bulat dan kursi sandar melingkar, yang disediakan untuk para pengunjung duduk-duduk menikmati pemandangan. Tetapi semua bangunan-bangunan kecil itu telah dihuni pasangan-pasangan remaja. Mereka akhirnya duduk di hamparan rumput berbukit.
Hari menjelang petang, tetapi mereka seperti tidak mau saling melepaskan, tidak boleh salah satunya pergi. Malam itu terpaksa mereka berdua bersama-sama. Entahlah
dimana.

Sementara langit terkelupas berwarna jingga, menandakan tiba senja. Sampai di puncak pendakian kabut yang menebar dinginnya aura malam, mereka belum berpisah juga.

“Kita berdua telah didalam sekat-sekat kabut, seolah kita masuk di dalam kamar pengantin dan kau meminta lampu diredupkan. Kita akan lupa hari esok karena keindahan malam ini, sayang,” kata Sigit tiba-tiba memecah suasana tetapi menambah syahdu keadaan saat itu.

“Ya, kenangan ini akan terbawa pulang,” jawab Fitri sambil tersenyum menatap lembut mata Sigit. “Tetapi kita bukan pasangan pengantin, Mas?” lanjut Fitri.

“Ya, tetapi ingatkah beberapa hari yang lalu, kita berdua di dalam becak dan diluar hujan deras sekali. Tirai plastik menutup kita, kita tidak bisa melihat keluar dan yang diluar tidak bisa melihat kita. Sementara abang becak terus menunaikan tugas mengantar kita. Tidakkah kau lihat, kita seperti pengantin yang ditandu mirip pengantin Cina pada masa lalu? Aku sangat bahagia Fit…”

Fitri mendekat padanya. Sementara kabut tebal datang kepada mereka. Begitu tebal kabut itu, seolah mereka terbungkus di dalam selimut yang basah. Tak tampak sesuatupun dari jarak yang sangat dekat. Kelambu kabut itu menutup mereka dari pandangan dunia.

“Masih adakah yang ingin kau ajarkan, Mas?”

“What?” Sigit terkejut. “Apa maksudmu?”

“Cerpenmu telah aku lanjutkan. Kau pun melanjutkan… Tetapi malam ini aku calon pengantinnya, dan kau yang melatihku…” jawab Fitri sambil terisak-isak di pangkuannya.

Serpihan kabut menyapu wajah mereka bagaikan serbuk embun dipercikkan.
“Apakah kau akan menikah dengan orang lain, Fit?”

“Bekas ini akan aku bawa pulang dan akan ada yang menghapusnya, bagaimana denganmu?” tanya Fitri sementara Sigit diam menangis.

“Maafkan aku, sesungguhnya rasa sayangku milikmu. Tetapi…?”

“Tetapi apa?”

“Malam ini tidak ada cinta. Aku menyukai cerpenmu, aku tidak suka cerpen sang idolaku terhenti, terputus di tengah jalan. Bukankah kau ingin supaya aku melanjutkan kisah itu? Aku sangat menyayangi Mas Sigit, tetapi aku akan menjadi milik orang lain. Besok aku ada yang menjemput kehidupanku.”

“Telah sekian lama aku menanti, telah sekian lama pula aku mencari. Kau tahu? Kerinduanku padamu telah menumpuk dalam gudang-gudang waktu. Belum sempat aku menyimpulkan rasa ini, tetapi….”

“Sadarlah, Mas. Itu tak akan mungkin terjadi. Kita tak mungkin bisa bersama lagi.”

“Tapi mengapa, Fit? Mengapa? Apakah kau tak ingin kita kembali seperti dulu? Masih ingatkah, ketika matahari hampir terbenam, kita duduk di atas bebatuan. Menunggu kiriman gelombang dari laut, lalu kita membalasnya dengan sajak-sajak cinta. Menulisnya dengan kasih, dengan sayang. Tapi mengapa? Mengapa sekarang kau pergi? Kau pergi dengan akhir seperti ini. “

“Mas, sudahlah. Jangan kau ungkit masa lalu. Lupakan saja. “

“Apa? Lupakan? Setelah sebagian hidupku kuabadikan untukmu, kau selalu menjadi sumber inspirasiku, kisah-kisahku hanya bercerita bagaimana diriku bertambat di hatimu. Tidak, Fit, aku tak bisa.”

“Mas, apa kau tidak tahu, aku tak akan bisa lagi di sampingmu, menyambung kembali benang kenangan kita, menyulamnya jadi harapan, jadi impian yang kau katakan. Tidak, itu tak mungkin. “

“Fitri, rasa rinduku masih bergelora. Dan seperti dulu, masih seperti dulu, aku menulis penantian dalam kekecewaan yang telah jadi kanvas, tempatku menulis gundah, melukis resah, tempat mendiskusikan segala keluh-kesah, memperdebatkan tentang sebuah pertanyaan, mengapa kita berpisah?”

“Mas, Tolong jangan kau lanjutkan. Malam ini tidak ada cinta. Aku juga sakit, Mas. Aku menyayangimu. Tetapi aku ingin melihatmu seperti dalam cerpenmu ‘Surat Untuk Edo’ sosok seorang Edo yang tegar seperti batu karang. Aku juga sebenarnya tidak tega melihatmu seperti ini, atau aku berbicara kasar seperti perkataan orang bodoh. Tetapi kau harus tahu, Mas. Aku harus meninggalkanmu karena aku akan menjadi milik orang lain. Dan aku mengikutimu ini, karena aku sayang padamu, Mas? Kamu harus tahu itu!” Kalau aku tidak menyayangimu, aku pasti tidak mau melanjutkan kisahmu yang teputus itu. Aku telah rela mengorbankan semuanya demi kamu, Mas?” Fitri menangis tersedu-sedu.

“Mas, jika kau tanyakan cinta, ya, aku masih menyembunyikannya padamu. Karena aku mencintai calon suamiku. Bukankah, dalam cerpenmu, saat sang laki-laki diserbu nafsu pelatih asmaranya, dia katakan bahwa cintanya hanya untuk calon isterinya? Kamu harus adil, Mas?”

“Fitri… Maafkan aku,” Sigit masih terisak-isak dalam pelukan Fitri yang ikut larut di dalamnya.

“Aku juga mohon maaf, Mas. Sentuhan kisahmu akan selalu membelai mimpi malamku. Teruslah berkarya, menulis dan jangan sia-siakan pengorbananku. Aku akan selalu rindu padamu, Mas, juga cerpen-cerpenmu. Kau pun berhak membuatku cemburu pada penantian di hari-hariku, juga suaramu yang telah mengisi imaji hingga kehampaan tak pernah bisa bertandang di benakku. Tapi, Mas, setelah kepergianmu, dan pencarianku pun tak berujung pertemuan, penantian tak menampakkan harapan, membuatku kehilanganmu.. Aku kehilangan. Di laut kenangan kita, aku mati. Terkubur dalam cerita-cerita yang berujung pada perpisahan. Pahamilah Mas, aku pun semakin rapuh bersama rumah rindu yang terus dihujani air mata.”

“Fitri, simpanlah semua cerita kita. Janganlah kau mati di dalamnya. Tetaplah jiwamu bergelora. Kau inspirasiku. Jangan lupa berkirim doa dan harap pada Tuhan. Jangan kau lupakan itu. Tuhan telah memberikan kita kata, kata itu yang telah melahirkan huruf-huruf cinta, di dalamnya telah berhikayat perjalanan kembara kita yang berhasil merangkum luka, kecewa, air mata dan sengsara jadi kehidupan, jadi sejarah lalu jadi kita.”

“Mas, percayalah. Aku ingin selalu hidup di dalam kisahmu. Aku tak akan menikam kepiluan, keperihan, juga menusuk jantungmu dengan kelu hingga biru. Teruslah berkisah… Maafkan aku jika malam ini tidak ada cinta. Semoga berbahagia, karena cerpenmu telah tertuntaskan. Besok kita pulang membawa kepedihan masing-masing dan keluar dari kepompong kabut yang memudar.”

*Lagi males menulis tentang forex...

Share:

CARA ORDER BUKU NINJAA TRADER

ORDER BUKU MTS

bERLANGGANAN ARTIKEL

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Popular Posts

POSTING TERBARU

Blog Archive

TESTIMONI BUKU MTS

testimoni buku MTS

BUAT AKUN FXCLEARING



BUAT AKUN HOT FOREX

https://www.grouphf.com/?refid=164413

Blog Archive