Produk bermutu. Pemasaran bagus. Penjualan sesuai target. Tapi kok rugi terus ya?
Jangan-jangan usaha Anda kurang satu lagi: Pengelolaan keuangan yang baik.
Aduuh.., itu kan rumit!
Enggak kok. Mengelola keuangan itu hanya mengatur tiga hal: investasi, modal, dan arus kas. Titik.
Oiya, sebelum lanjut. Pengelolaan keuangan keuangan itu beda dengan akuntansi ya. Akuntansi itu hanya soal pencatatan. Lalu, dari hasil pencatatan itu yang digunakan sebagai dasar dari mengelola keuangan.
Ada contoh menarik dari pengelolaan keuangan dan efeknya terhadap laba perusahaan.
Saat itu adalah awal berdirinya restoran cepat saji McDonald’s. Saat outlet McD baru berjumlah puluhan, Roy Kroc sang pemilik kebingungan: McD merugi. Padahal sepertinya tidak ada yang salah. Makanan laku keras. Permintaan kerja sama membuka gerai datang dari mana-mana.
Untuk menutup kerugian, Roy Kroc mengajukan hutang di bank. Malangnya, dia ditolak.
Sepulangnya dari bank, Kroc bertemu dengan seorang konsultan keuangan.
Konsultan ini menawarkan diri ingin membantu McD keluar dari masalah.
Walau pesimis, Kroc mengijinkan.
Setelah mereka mempelajari struktur keuangan dari McD, ketahuan letak salahnya.
Saat itu, jika ada investor yang ingin investasi membuka outlet baru, McD akan mencari sebuah lahan yang strategis, disewa, dan dibangun outlet.
Modal dari investor digunakan untuk menyewa lahan di tahun pertama, juga untuk membangun outlet.
Setelah outlet beroperasi, semua biaya operasional dan sewa lahan dibebankan ke revenue outlet.
Tiap outlet McD memiliki daya tarik yang luar biasa terhadap perkembangan wilayah sekitarnya. Muncul bisnis lain di sekeliling outlet McD. Akibatnya, harga pasaran lahan naik. Tentunya berujung ke meningkatkan biaya sewa lahan McD.
Hal ini terus menggerus laba McD: keberatan biaya sewa lahan.
Pendapatan sudah sulit untuk ditingkatkan. Kapasitas produksi sudah maksimal.
Lalu, apa solusinya?
Apakah McD harus pindah tempat untuk mendapat sewa lahan yang murah? Tidak bisa.
Itu artinya outlet harus membuka pasar baru. Mulai dari nol.
Investor tidak mau menambah investasi lagi.
Lagi pula, kalau ini dilakukan, McD akan semakin bergeser ke pinggir kota. Terus dan terus.
Mengetahui fakta ini, konsultan keuangan menyarankan McD untuk mengubah struktur investasi, modal, dan arus kas.
Modal yang tadinya hanya berasal dari investor outlet, kini ditambah lagi: bank. Sementara, investasi (pembelanjaan) dari modal tersebut juga diubah.
Begini skemanya. Setelah McD mendapat investor outlet dan sudah mendapat lahan, McD menemui bank dan berhutang untuk MEMBELI lahan tersebut.
McD MEMILIKI lahan, walau dengan cara dicicil.
Lahan itu kemudian dibangun outlet. Modalnya berasal dari investor.
Nah, outlet itu MENYEWA lahan kepada McD Corporate.
Uang sewa lahan itu digunakan oleh McD Corporate untuk mencicil hutang pembelian lahan di bank. Setelah sekian tahun, hutang lunas dan lahan itu seratus persen menjadi milik McD.
Tetapi, jangan lupa; outlet tetap membayar sewa lahan ke McD Corporate.
McD mendapat multiple revenue streams: sewa lahan dan keuntungan penjualan burger. Juga.., ya! Kenaikan harga lahan tiap tahunnya.
Dengan suksesnya skema ini, sampai-sampai mantan CFO dari McD -Harry J Sonneborn- bilang: kami sesungguhnya tidak bergerak di bidang bisnis makanan, melainkan di bisnis real estate. Properti.
Satu-satunya sebab kami menjual burger adalah: itu sumber pendapatan yang bagus dari para penyewa (tenants), agar mereka dapat membayar SEWA PROPERTI kepada kami.
Ya, ini hanyalah salah satu contoh bisnis didalam bisnis. Banyak sekali hal serupa dilakukan para pengusaha diberbagai lavel nya. Bahkan ada yang melakukannya dalam 3 dan 4 lavel diwaktu bersamaan.
Benar kata bang Roma Irama "Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin miskin". Kenapa demikian? Karena mereka yang kaya itu tau persis bagaimana seharusnya memperlakukan uang. #SelamatJumatMalam
SELAMAT BELAJAR DARI BISNIS McD
Jangan-jangan usaha Anda kurang satu lagi: Pengelolaan keuangan yang baik.
Aduuh.., itu kan rumit!
Enggak kok. Mengelola keuangan itu hanya mengatur tiga hal: investasi, modal, dan arus kas. Titik.
Oiya, sebelum lanjut. Pengelolaan keuangan keuangan itu beda dengan akuntansi ya. Akuntansi itu hanya soal pencatatan. Lalu, dari hasil pencatatan itu yang digunakan sebagai dasar dari mengelola keuangan.
Ada contoh menarik dari pengelolaan keuangan dan efeknya terhadap laba perusahaan.
Saat itu adalah awal berdirinya restoran cepat saji McDonald’s. Saat outlet McD baru berjumlah puluhan, Roy Kroc sang pemilik kebingungan: McD merugi. Padahal sepertinya tidak ada yang salah. Makanan laku keras. Permintaan kerja sama membuka gerai datang dari mana-mana.
Untuk menutup kerugian, Roy Kroc mengajukan hutang di bank. Malangnya, dia ditolak.
Sepulangnya dari bank, Kroc bertemu dengan seorang konsultan keuangan.
Konsultan ini menawarkan diri ingin membantu McD keluar dari masalah.
Walau pesimis, Kroc mengijinkan.
Setelah mereka mempelajari struktur keuangan dari McD, ketahuan letak salahnya.
Saat itu, jika ada investor yang ingin investasi membuka outlet baru, McD akan mencari sebuah lahan yang strategis, disewa, dan dibangun outlet.
Modal dari investor digunakan untuk menyewa lahan di tahun pertama, juga untuk membangun outlet.
Setelah outlet beroperasi, semua biaya operasional dan sewa lahan dibebankan ke revenue outlet.
Tiap outlet McD memiliki daya tarik yang luar biasa terhadap perkembangan wilayah sekitarnya. Muncul bisnis lain di sekeliling outlet McD. Akibatnya, harga pasaran lahan naik. Tentunya berujung ke meningkatkan biaya sewa lahan McD.
Hal ini terus menggerus laba McD: keberatan biaya sewa lahan.
Pendapatan sudah sulit untuk ditingkatkan. Kapasitas produksi sudah maksimal.
Lalu, apa solusinya?
Apakah McD harus pindah tempat untuk mendapat sewa lahan yang murah? Tidak bisa.
Itu artinya outlet harus membuka pasar baru. Mulai dari nol.
Investor tidak mau menambah investasi lagi.
Lagi pula, kalau ini dilakukan, McD akan semakin bergeser ke pinggir kota. Terus dan terus.
Mengetahui fakta ini, konsultan keuangan menyarankan McD untuk mengubah struktur investasi, modal, dan arus kas.
Modal yang tadinya hanya berasal dari investor outlet, kini ditambah lagi: bank. Sementara, investasi (pembelanjaan) dari modal tersebut juga diubah.
Begini skemanya. Setelah McD mendapat investor outlet dan sudah mendapat lahan, McD menemui bank dan berhutang untuk MEMBELI lahan tersebut.
McD MEMILIKI lahan, walau dengan cara dicicil.
Lahan itu kemudian dibangun outlet. Modalnya berasal dari investor.
Nah, outlet itu MENYEWA lahan kepada McD Corporate.
Uang sewa lahan itu digunakan oleh McD Corporate untuk mencicil hutang pembelian lahan di bank. Setelah sekian tahun, hutang lunas dan lahan itu seratus persen menjadi milik McD.
Tetapi, jangan lupa; outlet tetap membayar sewa lahan ke McD Corporate.
McD mendapat multiple revenue streams: sewa lahan dan keuntungan penjualan burger. Juga.., ya! Kenaikan harga lahan tiap tahunnya.
Dengan suksesnya skema ini, sampai-sampai mantan CFO dari McD -Harry J Sonneborn- bilang: kami sesungguhnya tidak bergerak di bidang bisnis makanan, melainkan di bisnis real estate. Properti.
Satu-satunya sebab kami menjual burger adalah: itu sumber pendapatan yang bagus dari para penyewa (tenants), agar mereka dapat membayar SEWA PROPERTI kepada kami.
Ya, ini hanyalah salah satu contoh bisnis didalam bisnis. Banyak sekali hal serupa dilakukan para pengusaha diberbagai lavel nya. Bahkan ada yang melakukannya dalam 3 dan 4 lavel diwaktu bersamaan.
Benar kata bang Roma Irama "Yang kaya makin kaya, yang miskin semakin miskin". Kenapa demikian? Karena mereka yang kaya itu tau persis bagaimana seharusnya memperlakukan uang. #SelamatJumatMalam
SELAMAT BELAJAR DARI BISNIS McD



How to sell.























